Selasa, 04 April 2017

Kunci Sukses Metha: Awali dengan Niat, Benahi Visi, Buat Strategi

Banjarmasin, Jurnal Kampus- Memaanfaatkan peluang untuk menambah wawasan dan pengetahuan merupakan Skill yang harus dimiliki oleh setiap orang. Hal inilah yang menjadi pemicu seorang Metha Adeyatni (21) - yang akrab disapa Metha - Mahasiswi Jurusan IESP FEB Unlam ini untuk mencoba berbagai hal yang baru termasuk dalam mengikuti lomba kepenulisan. Pada akhirnya Metha berhasil menjadi salah satu dari empat puluh perwakilan yang diseleksi dari seribu tiga puluh mahasiswa penulis essay terbaik yang diadakan Bank Indonesia bertajuk penulisan essay mengenai inovasi kreatif ketahanan pangan indonesia pada tahun 2017. Selain itu Metha juga berhasil mengembangkan usaha HennaArt yang ia promosikan melalui ig methahenna_bjm.

Saat diwawancarai tim redaksi pada hari senin (27/3), Metha mengungkapkan hal yang memicu dirinya sehinnga menjadi seperti sekarang sebenarnya sangat sederhana, memberikan manfaat hidup terhadap sesama. Dengan niat tersebut, semuanya berasa mengalir, memanfaatkan waktu luang kearah positif, sampai menyusun strategi untuk mencapai suatu tujuan yang dia inginkan. Dari kegagalan, dia belajar arti bangkit. Satu kalimat yang memicu semangat dirinya hingga sekarang ini yaitu “Saya pernah kehilangan motivasi, tapi saya tidak pernah kehilangan tujuan. Tujuanlah yang membuat saya termotivasi lagi”. Namun setiap mencoba hal yang baru pasti terdapat tantangan yang harus dilewati, tak terkecuali dengan Metha. "Untuk ketertarikan saya mengikuti lomba sebenarnya sudah lama, karena banyak sekali kegagalan yang memacu saya untuk mencobanya lagi” jelas metha.

Gadis kelahiran Amuntai ini juga menuturkan orang-orang sekitarnya juga menjadi motivasi untuk terus menjadi insan yang berguna. Namun Metha sempat mengalami masa sulit dimana salah satu orang yang selalu memberi dukungan dan motivasi pergi meninggalkannya. "Saya pernah kehilangan motivasi saya, kehilangan seorang motivator terhebat saya serta pondasi semangat hidup saya yaitu mama. Selebihnya dukungan Ayah, serta keluarga besar , serta kerabat teman terdekat saya yang selalu mendukung keberhasilan saya, mereka semua adalah orang yang penting bagi saya, mereka adalah sumber semangat saya. Karena tanpa adanya dukungan atau semangat dari mereka saya bukan siapa-siapa. Selebihnya mereka adalah pondasi saya yang senantiasa memopang keluh kesah dan mendengarkan cerita saya. Mereka merupakan warna indah yang mewarnai putih kusamnya kehidupan saya" terang metha. Cerita metha itu tentu saja dapat memotivasi mahasiswa lain untuk berkarya melalui tulisan ilmiah.

Metha menuturkan semua orang bisa sukses dan berhak untuk sukses tapi harus ada kerja keras dan doa untuk mewujudkannya. "Kalian pasti bisa !. Belajarlah arti kemanfaatan hidup, baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat banyak. Semua berawal dari niat, benahilah visi hidup, carilah peluang dan strategi untuk mencapai tujuan yang kalian ingin tuju. Belajarlah dari suatu kalimat “Vision without execution is a daydream. Execution without vision is a nightmare”.  Mulailah membaur, mencoba berkolaborasi, sehingga suatu masalah cepat terselesaikan" ungkapnya. (fz)

Minggu, 02 April 2017

Seminar Nasional: Peluang dan Tantangan Konversi Bank Daerah menjadi Bank Umum Syariah


BANJARMASIN – Sabtu (1/4), Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) bekerjasama dengan IAIN Antasari Banjarmasin dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan acara Seminar Nasional yang bertemakan “Konversi Bank Daerah Menjadi Bank Umum Syariah: Peluang dan Tantangan”. Seminar Nasional ini bertempat di Gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin.
Acara ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Perbankan Daerah di Indonesia khususnya Bank Konvensional bisa dikonversi menjadi Bank umum Syariah yang berbasis Ekonomi Islam. Sekaligus dilantiknya para pengurus dan ketua dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) yang telah disahkan.
Acara Seminar Nasional dibuka dengan Pembacaan Ayat Suci Al-qur’an yang dibawakan oleh Qoriah Internasional, Dina Andriani. Selanjutnya sambutan dari Prof. Dr. H. Ahmad Fauzi Aseri, M.A. selaku Rektor IAIN Antasari Banjarmasin, dan pembukaan secara resmi yang disampaikan oleh Drs. H.Abdul Hadi M.Si selaku Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.
            Selanjutnya Prof. Bambang Bodjonegoro, Ph.D dan Hanif Fauzan sebagai Keynote Speech pada Acara ini menyampaikan tentang gambaran bagaimana Perbankan di Indonesia yang berbasis syariah dapat diperluas dan diperbanyak serta urgensi Bank Syariah dalam pembangunan nasional dengan banyak membangun Investasi besar-besaran terutama di sektor Infrastruktur.
Seminar ini juga diisi oleh beberapa pembicara yang terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi oleh KH. Dr. Zainal Majdi, MA dan Agus Sudiartono, MM yang menyampaikan tentang proses konversi Bank Nusa Tenggara Barat menjadi Bank umum syariah, serta tantangan dalam menghadapi transformasi Bank daerah menjadi Bank Umum Syariah. Pada sesi kedua, materi disampaikan oleh Ari Bastari, SH, MM, AFP, CPHR dan Dr. Ir. Adiwarman Karim, MBA. Untuk sesi kedua ini, pembicara menyampaikan tentang rencana strategis pengembangan unit usaha syariah Bank Pembangunan Daerah dan potensi apa saja yang dapat dioptimalkan di Indonesia.
Para peserta yang hadir pun terlihat antusias dengan diadakannya Acara ini, karena mereka dapat memberikan masukan dan tanggapan terkait Konversi Bank Daerah menjadi Bank Umum Syariah,. Acara ini tentunya tidak hanya penting bagi nasabah di Indonesia, tetapi juga bagi Mahasiswa karena mereka tidak hanya mempelajari teori syariah saja, namun dapat sekaligus mempraktikkannya di dunia kerja nanti.
Fitriani dan Siska Nor Aulia Wati dari IAIN Antasari Jurusan S1 Perbankan Syariah Semester 6 yang juga menjadi salah satu peserta Acara Seminar Nasional ini mengatalan bahwa informasi yang terdapat dalam Acara Seminar sangat bermanfaat, banyak hal yang awalnya mereka tidak ketahui akhirnya menjadi tahu. Seperti misalnya, mereka menjadi lebih mengenal tentang ekonomi islam terutama perbankan syariah dan mengetahui lebih banyak  perbankan syariah yang ada di indonesia.
            Dr. Muhammad Yusuf M.Si menuturkan acara ini didasari karena melihat bahwa kalimantan selatan merupakan kota yang penduduknya mayoritas beragam Islam. Kemudian hal ini juga diperkuat dengan adanya keinginan yang besar untuk menerapkan hukum ekonomi syariah secara menyeluruh.
“Alhamdulillah acara ini berjalan lancar dan kelihatannya kendalanya tidak terlalu besar karena memang mendapat dukungan yang luar biasa. Jadi bukan hanya dukungan dari IAIN, tetapi juga ada dukungan dari  Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam, Masyarakat Ekonomi Syariah, Asosiasi Bank Syariah Indonesia, beberapa perbankan serta para pengusaha juga sangat mendukung penuh acara ini,” tambah Pak Yusuf. (Ls/Ly)

Comments System

Disqus Shortname