Kamis, 11 Mei 2017

Aksi Coret Kursi Kampus


kondisi kursi yang dicoret di GB1A

Seperti yang kita ketahui fungsi kursi di dalam kelas disediakan untuk menunjang proses belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa. Sarana dan prasana tersebut ada agar dosen dan mahasiswa dapat melakukan aktivitas di dalam kelas dengan nyaman. Selain dari fungsi kursi yang digunakan untuk duduk, ternyata benda tersebut mempunyai fungsi lain bagi para mahasiswa. Apakah itu? Coba perhatikan setiap kursi yang ada pada gambar diatas, pasti kalian akan menemukan hal-hal yang merusak nilai estetika. Entah hanya sekedar iseng atau tidak adanya media lain untuk menulis, namun kursi yang berada di ruangan GB1A tersebut, sudah lama sekali memiliki corak yang tak biasa hasil kreasi para Mahasiswa.
Menurut beberapa mahasiswa yang melihat kondisi tersebut, mahasiswa mulai mencoret kursi saat mereka mulai bosan dan tidak tau harus melakukan apa dikelas. Selain itu, hal ini juga disebabkan karena kurangnya kesadaran untuk menjaga fasilitas yang ada. (Arlina Sri Astuti, Akuntansi’16 dan Marlina, Manajemen’15)
“ Harapannya semoga mahasiswa lebih paham dan mengerti tentang fungsi dan tujuan adanya sarana dan prasarana dengan menggunakannya sebagaimana mestinya, serta sebaiknya disetiap ruangan diberikan peringatan baik lisan maupun tertulis”, tutur Amrin Yusuf (Akuntansi ‘16).

(IL)


Riduan & Khairur: Tetap Semangat Belajar & Jangan Takut Berprestasi

Banjarmasin, Jurnal Kampus-- Sebagai Generasi muda, kita diharuskan untuk selalu melakukan hal positif seperti belajar sungguh-sungguh dan mencetak berbagai prestasi yang membanggakan. Hal inilah yang mendasari Muhammad Riduan (19) & Khairur Razikin (18) untuk mengikuti lomba Pidato yang diadakan BKKBN Prov. Kal-Sel dan akhirnya Riduan berhasil menyabet juara 3 dan Khairur Razikin berhasil menyabet juara 2.
Dalam mempersiapkan diri untuk lomba tersebut, mereka harus mengumpulkan data kependudukan dari BPS untuk mendukung naskah pidato yang mereka buat. Khairur juga menambahkan kisah pengalaman nya sendiri juga turut dimasukkan ke dalam naskah pidatonya. Mereka menyebutkan banyak pihak yang mendukung langkah mereka untuk mengikuti lomba tersebut. Riduan mengatakan ada beberapa seniornya yang juga turut membantunya untuk mempersiapkan diri.
Lomba ini sendiri dilalui dengan beberapa tahap, yaitu tahapan lomba tingkat Kota dan selanjutnya tahapan lomba tingkat provinsi. Lomba tingkat provinsi ini diadakan tanggal 3-4 Mei 2017 di UIN Antasari.
Riduan mengungkapkan "Pesan saya agar semua mahasiswa tetap semangat dalam belajar. Apalagi kalau mengikuti perlombaan, kita harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Jangan takut bermandikan keringat saat persiapan latihan, karena itu akan lebih baik dari pada harus berkeringat darah (menyesal) saat penampilan".
"Untuk mahasiswa yang lain, jangan pernah takut untuk mencoba berprestasi. Karena semua mahasiswa punya kesempatan untuk meraih prestasi di ajang lomba apapun itu", tambah Khairur. (Fz/Hm)

Pendingin Ruangan yang Tak Kunjung ‘Sembuh’


  • Kondisi pendingin ruangan di gedung baru FEB lantai 2  yang telah diberi tanda bahwa pendingin ruangan tersebut rusak.
Beberapa minggu telah berlalu sejak rusaknya pendingin ruangan / AC di salah satu ruang kuliah digedung baru lantai 2 FEB ULM, namun masih belum nampak adanya tindakan dari pihak Fakultas atas kejadian tersebut.

            Menurut Dr. Ade Adriani selaku wakil dekan 2 FEB ULM mengatakan, bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan kosongnya anggaran belanja modal atau anggaran revisi, lalu menunggu persetujuannya sekitar bulan September tahun 2017. Apabila pendingin ruangan tersebut ingin diganti, maka harus mematuhi peraturan keuangan yang berlaku dan apabila diperbaiki maka termasuk perbaikan kecil dan tidak menyeluruh. Untuk perbaikan keseluruhan biasanya dilakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum memasuki awal perkuliahan, dan diharapkan nantinya di setiap pertengahan kuliah (pada masa ujian tengah semester) juga diadakan evaluasi terhadap sarana dan prasarana yang ada di fakultas ini. (ar/mb)

Melihat Pendidikan Melalui Kacamata Dosen




JURNAL KAMPUS-(8/5). Tanggal 2 Mei merupakan tanggal yang cukup bersejarah dalam dunia pendidikan nasional. Sebab pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) Indonesia. Dari pandangan yang diberikan oleh Drs. H. Rusdiansyah, M.P. yang merupakan dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat, menurut beliau pendidikan itu ada kuantitas dan kualitas. Untuk kuantitas pendidikan sudah cukup baik karena semua orang bisa bersekolah dengan gratis, hanya tinggal diperlukan kemauan dari diri sendiri saja. Sementara dari segi kualitas, ini berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mempengaruhi antara lain si pendidik dan fasilitas yang ada.

Namun tidak itu saja faktor yang mempengaruhi kualitas dari pendidikan itu, melainkan juga ditentukan dari tingkat kesejahteraan keluarga siswa yang bersangkutan. Bila tingkat kesejahteraan keluarganya rendah maka siswa tersebut akan kurang dalam mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan pemikiran yang ingin membantu perekonomian keluarga. Hingga tidak jarang banyak anak yang tidak bersekolah karena bekerja. Meski begitu, bukan berarti semua siswa yang memiliki keluarga kurang sejahtera selalu terkebelakang, justru kadang-kadang mereka inilah yang memiliki semangat belajar yang tinggi.

Pemerintah juga telah memberikan bantuan bagi anak yang tidak mampu agar tetap bersekolah, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Dana BOS. Namun bantuan tersebut digunakan tidak sebagai mestinya seperti yang di rancang pemerintah. Bantuan tersebut justru di pergunakan oleh orang tua siswa untuk keperluan sehari-hari bukan untuk keperluan belajar siswa. Maka dari itu sekarang ini pemerintah mengubah skema pemberian bantuan dari bantuan tunai ke non tunai, sehingga siswa tidak lagi menerima uang melainkan langsung pada keperluan belajar seperti buku-buku tulis, buku pelajaran, seragam sekolah dan lain sebagainya.

 Pendidikan sekarang juga tidak sama dengan pendidikan dulu yang benar-benar bertujuan mendidik siswanya untuk belajar. Pendidikan sekarang dinilai lebih bebas, yang maksudnya tergantung pada siswa itu sendiri yang menentukan apakah ingin pintar atau tidaknya mereka. Belum lagi pengaruh dari kemajuan teknologi seperti keberadaan handphone yang kebanyakan malah digunakan hanya untuk bermain game saja.

            Dosen jurusan IESP ini juga mengungkapkan, bahwa problem pendidikan dari dulu sampai sekarang ini yaitu, pendidikan selalu ditujukan untuk orientasi pekerjaan. Padahal, harusnya tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk mengubah tingkah laku dan juga menjadi seorang yang pemikir. Dari situ nantinya mampu menyesuaikan diri dan bisa mendapatkan pekerjaan.

Senin, 08 Mei 2017

Pendidikan, Antara Harapan dan Kenyataan


           Pendidikan, Berasal dari kata “didik” yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan sendiri memiliki definisi “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Dari definisi ini secara jelas pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tujuan Negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
Setiap tahun, pada tanggal 2 Mei, negara kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan tema yang berbeda. Untuk tahun ini, tema yang ditetapkan berdasarkan surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) adalah “Percepat Pendidikan Yang Merata dan Berkualitas”. Ada 2 poin penting terkait tema hardiknas tahun ini, yaitu “pendidikan yang merata” dan “pendidikan yang berkualitas”.
Pendidikan dapat diartikan bahwa semua warga negara berhak mendapat pendidikan, tanpa memandang anak desa/kota, kaya/miskin, bangsawan/rakyat biasa dan berbagai perbandingan lainnya. Idealnya, semua warga negara memiliki hak yang sama untuk menikmati pendidikan. Namun, bagaimana dengan kenyataannya?
Kenyataannya, pendidikan yang “merata” sangat sulit ditemukan. Ada yang mengatakan “pembangunan daerah tergantung bagaimana pemerintah daerahnya”. Sedangkan, pendidikan adalah bagian dari pembangunan. Tentunya pendidikan juga tergantung bagaimana pemerintah dari daerah yang bersangkutan dalam mengelolanya.
Hal yang patut disoroti mengenai alasan kenapa pendidikan yang merata sulit ditemukan karena tidak adanya biaya dan kurangnya informasi (untuk daerah pelosok). Sebenarmya, pemerintah pusat maupun daerah telah menyediakan beasiswa bagi masyarakat miskin atau kurang mampu, serta dengan gencar menyebarluaskan informasi beasiswa tersebut hingga ke pelosok-pelosok tanah air.
Lalu, mengapa masalah biaya dan informasi tersebut bisa terjadi? Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan dan adanya permainan politik dari para pejabat daerah yang bersangkutan. Umumnya sebagian besar masyarakat (terutama pelosok) beranggapan bahwa pendidikan tidak penting. Sebagian masyarakat tersebut beranggapan yang penting bisa membaca dan menghitung, jadi tidak harus buang-buang biaya untuk sekolah. Sedangkan dari sisi pemerintah daerah, kata “orang dalam” sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Praktik yang umumnya terjadi adalah pejabat daerah yang mementingkan kepentingan keluarga atau golongannya terlebih dahulu dibanding mereka yang lebih berhak. Misalnya, penerimaan siswa pada tahun ajaran baru. Pendaftaran terbuka untuk umum, namun disinilah “orang dalam” itu muncul.
           Masyarakat yang memiliki hubungan dengan “orang dalam” akan mendapat peluang yang lebih besar untuk diterima, sedangkan masyarakat yang notabene lebih berhak diterima bisa saja tersingkir karena kasus tersebut. Hal inilah yang umumnya terjadi di negara kita. Kekuasaan disalahgunakan dan akhirnya membuat image pendidikan semakin buruk dimata masyarakat pelosok.
Berikutnya, pendidikan yang “berkualitas”. Berbicara mengenai pendidikan berkualitas, maka akan sangat berhubungan dengan faktor-faktor yang menentukan sebuah kualitas, dalam hal ini yaitu guru dan infrastruktur.
Sumber daya guru adalah ujung tombak dari pendidikan. Para gurulah yang menentukan keberhasilan dari sebuah pendidikan yang ada disuatu negara. Masalah kekurangan tenaga guru, adalah sedikit dari sekian banyak permasalahan guru di Indonesia. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika sebuah sekolah kekurangan guru. Kegiatan belajar mengajar sudah pasti akan terhambat. Hal inilah yang juga memicu adanya guru yang mengajar banyak mata pelajaran, meskipun bukan bidangnya. Padahal kondisi seperti ini kurang ideal untuk mewujudkan pendidikan yang berkulitas.
Pertanyaan demi pertanyaanpun akan terus muncul, apakah Indonesia memang benar-benar kekurangan tenaga guru?, Bagaimana mungkin bisa terjadi, bukankah ada banyak orang yang berkuliah dibidang keguruan?. Tidak perlu jauh-jauh, kita amati saja jumlah mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Apakah jumlah mereka sedikit?. Malah sangat banyak. Itupun baru satu universitas, bisa dibayangkan ada berapa universitas di Indonesia yang menyediakan jurusan keguruan dan jika semua itu digabung, maka sebenarnya kita malah kelebihan calon-calon guru, bukan malah sebaliknya.
Permasalahan guru sebenarnya bukan pada jumlah, akan tetapi penyebaran guru yang tidak merata. Terkadang para guru hanya terpusat di perkotaan saja hingga akhirnya terjadi kelebihan guru karena sekolah-sekolah yang ada tidak mampu menyerap semua guru. Sedangkan di daerah terluar, pelosok dan pedalaman, masih kekurangan guru.
Tak dapat dipungkiri mengapa calon-calon guru tak mau “berhijrah” ke tempat-tempat yang jauh dari pusat perkotaan. Bayangan hidup yang serba sulit, terisolasi dan keterbelakangan masyarakat yang akan dihadapi, pastinya menjadi alasan mengapa banyak guru yang tidak ingin dikirim kesana. Ditambah lagi dengan status guru honorer yang masih dianggap menyulitkan bagi para guru.
Ketidakmerataan persebaran guru jelas harus secepatnya diatasi. Karena itu, diperlukan pembangunan infrastruktur yang memadai. Pembangunan infrastruktur yang baik akan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang baik pula. Bagaimana mungkin ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, jika sekolahnya saja banyak yang rusak bahkan membahayakan peserta didik itu sendiri. Selain itu, infrasruktur tidak boleh hanya terbatas pada pembangunan gedung sekolah saja, melainkan akses untuk menuju sekolah itu, seperti jalan dan jembatan. Sarana penunjang lainnya seperti tempat tinggal untuk guru sebaiknya juga disediakan untuk menjamin kehidupan guru disana.
Penghargaan juga hendaknya diberikan oleh pemerintah kepada guru-guru yang selama ini berdedikasi tinggi terhadap pendidikan di daerah-daerah tertinggal. Meski banyak dari guru yang tidak ingin mengajar di pelosok, akan tetapi tidak sedikit dari para guru tersebut yang masih mau mengorbankan dirinya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak disana. Karena itu penghargaan harus diberikan kepada mereka yang bertujuan untuk memotivasi mereka dan guru-guru lainnya.
Kesimpulannya adalah pendidikan yang merata dan berkualitas dapat dicapai dengan kerjasama dari semua pihak, mulai dari perbaikan mindset masyarakat tentang pendidikan, mengurangi atau bahkan menghentikan praktek “orang dalam”, hingga pemberdayaan dan persebaran tenaga guru yang lebih intensif. Kedepannya, semoga pendidikan di negara kita semakin baik dan dapat dinikmati semua golongan masyarakat.

Jumat, 05 Mei 2017

Dinding Panjat Mapala Wira Economica




Banjarmasin, Jurnal Kampus-- Setiap UKM yang ada dikampus pada dasarnya harus dapat mengembangkan skill dari setiap anggota. Pengembangan skill ini juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai. Seperti halnya UKM Mapala Wira Economica. UKM yang sudah ada sejak tahun 1985 ini telah membangun dinding panjat (kategori boulder) di depan gedung aula baru.

Dinding panjat ini memiliki tinggi 4 m dan lebar 16 m. Menurut Muhammad Nor Hakim selaku Koordinator bidang pendidikan dan pelatihan mengungkapkan "Dinding panjat ini berfungsi untuk melatih skill anggota Mapala, dan sebenarnya dulu dinding panjat ini ada didalam Sekre Mapala yang lama namun sifatnya portable. Dan sekarang Mapala Wira Economica telah mempunyai dinding panjat permanen". Ia juga menuturkan dalam proses pengerjaan dinding panjat ini, semuanya dilakukan oleh para anggota Mapala dan sekarang prosesnya telah mencapai 90%.

Komponen besi yang digunakan untuk kerangka dinding panjat adalah sebagian dari besi yang berumur 30 tahun lalu dan sebagiannya lagi dari besi yang baru. Hakim menuturkan dinding panjat ini kira kira menghabiskan ratusan juta rupiah.

Selain berfungsi untuk pelatihan anggota, dinding panjat ini juga digunakan untuk lomba. Pada tanggal 14-16 Juli 2017 Mapala Wira Economica akan mengadakan lomba panjat dinding (kategori boulder). Lomba ini diadakan dalam rangka Dies Natalis XXXII Mapala Wira Economica. "Lomba ini terbagi menjadi 4 kategori yaitu Pria Untuk pelajar/mahasiswa, Wanita untuk pelajar/mahasiswa, Pria untuk kategori umum dan Wanita untuk kategori umum" ungkap Hakim. (fz/hm)

Sang penimba Ilmu



Dikala pagi, orang-orang masih tertidur pulas..

Sedangkan aku sudah beranjak dari tempat tidurku..

Ku tinggalkan rasa aman dan nyaman demi citaku..

Apalah daya aku hanya orang yang tidak mampu..

Yang berjuang untuk menimba ilmu dan berani bermimpi untuk merubah hidupku..

Disini aku bukan siapa-siapa..

Ini semua kulakukan demi harpan dan asa..

Aku ingin meberikan segenap kebahagian kepada orang tua..

Yang selalu berdo’a untukku agar tercapai cita..

Yang selalu bekerja dan berjuang demi anaknya agar menjadi seorang yang berguna..

Wahai Ilmu..

Berikanlah jendela-jendela baru..

Untukku, untuk harapanku..

Wahai ilmu..

Tunjukkanlah aku kebenaran yang hakiki..

Yang akan ku cari dan kukerjakan dengan hati..

Wahai ilmu..

Kau akan kujaga, ku amalkan, ku cari, dan ku sebar luaskan..

Demi jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan..

Wahai ilmu..

Kaulah penerang kami..

Tanpamu apa jadinya dunia ini.. (rd/ls)

Senin, 01 Mei 2017

Mau join FLS? Takut, gak pede, kegiatannya ngeri, biayanya mahal? Yukk kenal lebih dekat apa itu FLS  

Suasana kegiatan FLS 2016
(sumber : https://meditiamonicaputri.wordpress.com/)


Apa itu FLS ?
FEB Life Skill secara umum merupakan ajang untuk pembekalan mahasiswa baru khususnya para organisatoris untuk lebih mengenal lingkungan organisasi di dunia perkuliahan yang tentunya berbeda dengan organisasi di tingkat Sekolah Menengah Atas.
Siapa saja yang boleh mengikuti kegiatan ini?
Nah! FEB Life Skill (FLS) ini  tidak hanya ditujukan untuk anggota ORMAWA saja tetapi juga terbuka untuk semua mahasiswa FEB sendiri mengingat kegiatan ini bertujuan untuk melatih jiwa kepemimpinan.
             Gimana sih kegiatannya?
            Kegitannya ini kece gila guys gak Cuma in door tapi juga outdoor. Acaranya sendiri akan dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada hari Jum’at (12/5) untuk in door yang bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM. Untuk kegiatan in door nya kalian akan menganal dan belajar banyak tentang Public Speaking kebayangkan di masa sekarang gimana Public Speaking berperan penting dan bakal berguna benget buat kalian kedepannya. Untuk out door nya sendiri akan dilaksanakan selama dua hari (13-14 Mei) di Taman Hutan Raya, Sultan Adam, Mandiangin. Akan ada beragam kegiatan kaya travelling, camping, dan beragam kegiatan lainnya yang akan melatih leadership kalian dan juga mengasah kepekaan terhadap alam sekitar. Eittss tentunya akan ada games-games seru yang akan melatih kalian untuk bekerja sama dalam team.
            Kenapa harus join FLS?
Nah ini nih pertanyaan klasik, leadership kan bisa dipelajari dimana aja, public speaking bisa didapat dimana aja kenapa harus FLS? Okehh gini guys seperti yang udah dijelasih diatas yahh kalian disini gak cuma belajar leader sama public speakingnya doang tapi juga sebagai wadah kalian beradaptasi dan lebih mengenal tentang giamana kehidupan organisasi di kampus khususnya di lingkungan FEB ULM  sendiri, kalian juga akan dapat relasi, teman yang sebelumnya gak kalian kenal. FLS meruapakan ajang yang tepat buat kalian untuk menggali potensi besar dalam diri kalian yang selama ini terkubur, tenggelam, tertidur *ehhh
 “alasan saya mengikuti kegiatan ini karena FLS merupakan ajang kegiatan pelatihan kepemimpinan seorang mahasiswa yang berkuliah di FEB, tentunya sebagai anak ekonomi kita  ingin menjadi seorang pemimpin yang tegas dan terlatih, disinilah tempat saya melatih kepemimpinan untuk menjadi orang sukses”
“harapan saya dengan mengikuti kegiatan ini saya bisa mempunyai jiwa kepemimpinan yang tegas, bijak, dan bertaanggung jawab serta bisa engendalikan ego sendiri”. (Rakhmatullah, IESP’16)
“Tujuan kegiatan ini adalah agar pesertanya sendiri dapat mengasah kepekaannya terhadap masalah, karena ruang lingkupnya fakultas saya juga berharap setiap peserta tidak hanya bergaul pada sesama jurusannya saja namun juga bersifat terbuka dan bisa saling mengenal dengan teman-teman dari jurusan lain karena tujuan kita disini sama, yaitu untuk memajukan Fakultas kita”. Ungkap Muhammad Ikhdian selaku Ketua Pelaksana.
Nah guys setelah dengar penuturan dari salah satu peserta FLS dan Ketua Pelaksananya, serta dengan penjelasan beragam profitnya, apa kalian masih ragu? masih mikir? Udahh yukk join sebelum pendaftarannya ditutup!! (Mde)

Rabu, 26 April 2017

Tuhan, Ajarkan Aku



Tuhan…

Ajarkan aku menjadi bunga Matahari,

yang hanya akan menghadap kepadamu,

untuk mendapatkan sebuah keindahan…

Tuhan…

Ajarkan aku menjadi bunga Dandelion,

yang selalu membawa harapan,

bersama hembusan angin menuju kesuksesan…

Tuhan...

Ajarkan aku menjadi bunga Edelweiss,

yang rela memberi pengorbanan,

perjuangan dan kesungguhan untuk menggapai cinta Mu…

Tuhan ...

Ajarkan aku menjadi bunga Sakura,

yang membawa kesetiaan janji bersama hadirnya,

yang tak pernah lupa akan apa yang telah kita sepakati…

Tuhan …

Ajarkan aku menjadi bunga Tulip,

yang mampu menjadi simbol kata yang tak terucapkan,

menjadi lambang akan cinta yang sempurna kepada Mu…

Tuhan …

Ajarkan aku menjadi bunga Anggrek,

yang mampu bersabar menanti keindahan,

bersabar menanti kebahagiaan yang hakiki di surga Mu…

Tuhan …

Ajarkan aku menjadi bunga Mawar,

yang mampu melambangkan cinta ku pada Mu,

dengan warna cintaku sendiri dalam setiap sujud ku…

Tuhan …

Ajarkan aku…


Persiapan Para Mahasiswi ULM Dalam Lomba Gadjah Mada Accounting Days 2017




(20/04/2017) Fakultas ekonomi dan bisnis Universitas Lambung Mangkurat kembali menyiapkan para mahasiswi yang berprestasi untuk mengikuti rangkaian acara Gadjah Mada Accounting Days 2017 yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM. Acara tersebut dilaksanakan untuk memberikan wadah bagi mahasiswa diseluruh indonesia untuk meningkatkan kualitas dirinya dalam ilmu pengetahuan khususnya ilmu akuntansi.

Adapun rangkaian acara yang diselenggarakan oleh IMAGAMA tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 7 Februari hingga 29 Maret 2017 untuk pendaftaran peserta, 1 April 2017 untuk pengisisan Online Preliminary, 16 April pengumuman TOP 35, 16 sampai 25 April 2017 Registrasi ulang TOP 35, tanggal 17 Mei 2017 untuk Technical Meeting, pada tanggal 18 sampai 19 Mei 2017 mendatang merupakan puncak dari rangkaian acara tersebut, dan terakhir acara ditutup dengan Jogja Amazing Race dan Gathering Night pada tanggal 20 Mei 2017.

Dari acara tersebut Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat telah menyiapkan perwakilan dari jurusan Akuntansi yaitu Patricia Devina, Nurin Aulia, Novianti Amalia sebagai peserta yang telah lolos tahap TOP. Selain Mahasiswi yang diwakilkan untuk mengikuti lomba tersebut ada pula pihak yang ikut terlibat dalam memberikan dukungan, serta penyemangat bagi para peserta lomba, yaitu asisten dosen AKL II dan AKM yang membantu dalam memecahkan permasalahan dalam soal online preliminary yang telah mereka kerjakan, serta mereka juga mendapat dukungan dari Ketua Jurusan Akuntansi.

Untuk mempersiapkan segala keperluan lomba banyak hal yang telah dilakukan sebelum masuk tahap TOP 35 yaitu mereka telah mempersiapkan materi yang terkait dengan lomba tersebut, kemudian mereka juga mengumpulkan buku-buku yang terkait dengan lomba sehingga akan mudah mempelajari dan sesuai dengan yang diujikan dalam proses seleksi kemarin.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan tentunya bukan hanya persiapan materi yang diperlukan tetapi juga motivasi pada diri mereka untuk mengikuti lomba tersebut. “Saya secara pribadi termotivasi untuk mengikuti lomba tersebut karena saya ingin mengetahui bagaimana pembelajaran akuntansi di Universitas lain, apakah sama seperti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat atau tidak”, ucap Patricia.

Kemudian Patricia juga menuturkan bahwa sebelum mengikui lomba mereka harus  mempelajari setidaknya 10 materi yang akan menjadi bahan perlombaan. Dimana dari kesepuluh materi tersebut, akan dibagi menjadi 3 dan dipelajari oleh masing-masing peserta. Tak lupa mereka juga mempersiapkan mental agar siap bersaing dengan perwakilan Mahasiswa dari Universitas lain di Indonesia.

Adapun kendala yang mereka hadapi adalah perbedaan buku pegangan antara Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univeristas Lambung Mangkurat dengan ketentuan lomba sehingga mereka harus mengumpulkan dan mempelajari lagi agar tidak melenceng jauh dari soal yang akan dilombakan.

“Solusi yang tepat untuk kendala yang kami hadapi adalah berbagi tugas sehingga tidak ada yang diberatkan dan saling tumpang tindih materi. Jadi dalam pengumpulan buku kami bertiga berusaha mengumpulkan dan mencari buku-bukunya dengan meminjam di perpustakaan atupun meminjam dengan teman-teman yang lain agar segala persiapan dan bahan untuk materi lomba dapat dipelajari bersama”, tambah Patricia. (rd/ls)












Aldin Ukir Prestasi Lewat Basket

Foto setelah pertandingan,  Aldin mengenakan kaos warna kuning/ yang ditengah

            Kerja keras dan berdoa merupakan suatu hal yang harus dilakukan untuk meraih kesuksesan, tidak terkecuali yang dilakukan Aldin Dwipa Kusuma Mauliansyah atau yang kerap disapa Aldin. Aldin merupakan mahasiswa S1 Manajemen FEB ULM angkatan 2016.

Ia merupakan salah satu dari beberapa mahasiswa FEB, (Muhammad Bagir S1Manajemen, Muhammad Indra D3 Perpajakan, dan Ilham Fajrian D3 Akuntansi) yang lolos seleksi, untuk bergabung dalam tim basket Universitas ULM. Saat diwawancarai tim redaksi LPM Jurnal Kampus minggu lalu (23/04) tentang prosedur seleksi masuk tim basket universitas, Aldin menuturkan bahwa persaingan dan seleksi yang dilalui sangat ketat. Mulai dari tes fisik, cara bermain dan skill pemain.

Sebelumnya, selama kurang lebih dua bulan Aldin dan timnya giat berlatih, untuk mengikuti pagelaran Campus League, yang diselenggarakan oleh LA. Acaranya sendiri  dilaksanakan mulai dari tanggal 16-22 April 2017, yang bertempat di Surya Arena untuk seleksi dan di GOR Hasanuddin Banjarmasin untuk finalnya. Aldin sangat bersyukur karena bisa membawa tim basket ULM sampai ke babak final dan menjadi juara pertama dalam pagelaran  Campus League tersebut, yang dilaksanakan belum lama tadi. Melihat kebelakang, tim basket ULM merupakan tim yang selalu menyabet gelar juara pertama dalam pagelaran Campus League, selama empat kali berturut-turut. (ar/mz)




Timbunan Sampah di FEB Mulai Dibenahi


Kondisi penampungan sampah sementara FEB ULM yang berada disamping musholla


Timbunan sampah memang menyebabkan berbagai permasalahan baik secara langsung maupun tidak langsung. Tumpukkan sampah memang dapat mengganggu pemandangan serta dapat menimbulkan penyakit. Seperti yang telah kita ketahui tempat penampungan sampah sementara kampus kita yang terdapat di samping gedung baru, yang dulunya menggunung kini sudah mulai mendapat penyelesaian.

Seperti pernyataan Saudara Andi yang merupakan petugas pembuangan sampah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM ketika diwawancarai pada hari Kamis lalu (20/04) mengatakan, “Tempat pembuangannya memang dari dulu disitu, namun sekarang dari fakultas telah disediakan berupa angkutan truk yang akan mengangkut sampah tersebut sebanyak 3 kali dalam seminggu. Namun sampah sampah yang tercecer memang dari dulu, sedangkan sampah dedaunan memang dibiarkan karena akan terurai dengan sendirinya. Memang dulunya sampah ditumpuk begitu saja”

Menurut penuturan salah satu Mahasiswi Manajemen angkatan 2016 Dita Septy Aulia “Sebenarnya tumpukkan sampah itu tidak begitu terlihat karena memang tempatnya di tutup oleh seng, kemungkinan hanya terlihat sekilas dari sela sela pepohonan di sebelah mushola. Namun memang akan terlihat jika kita keluar dari pintu gedung baru yang berdekatan dengan tempat pembuangannya dan dari jendela di GB lantai 3. Seharusnya fakultas lebih memperhatikan fasilitas penambungan sampah, mungkin di perbesar tempatnya, dan melakukan pembersihan sampah yang tercecer. Untuk penyediaan fasilitas tempat sampah di area kampus sudah tercukupi, namun memang kesadaran penggunaannya yang kurang.”

Pernyataan ini juga di benarkan oleh Wakil Dekan Bidang 2 Umum dan Keuangan Ade Adriani selaku penanggungjawab. Beliau memaparkan “Sebenanya jikalau bertebaran sih tidak, karena sudah setiap dua kali seminggu diangkut oleh  Dinas Kebersihan Kota Banjarmasin. Jadi sampah diseluruh fakultas dikumpulkan kesana, dan kita membayar khusus ke Dinas Kebersihan. Sampah yang masih berserakan tersebut itu sisa-sisa dari pengangkutan. Kalau disamping Gedung Baru, kemarin karena diacak-acak pemulung."

Ade juga menuturkan bahwa hal ini baru dimulai tahun 2017. Diawal tahun, sampah yang menumpuk mulai diangkut secara bertahap sehingga tidak terlalu banyak lagi. Pihak FEB membayar sebesar 400ribu/bulan untuk truk sampah dari Dinas Kebersihan Kota yang akan mengangkut sampah dan membawanya ke TPA. Dulu sampah banyak menumpuk karena tidak diangkut secara rutin dan tidak tersedianya tempat yang memadai. Oleh karena tidak diangkut, maka sampah pun akhirnya membludak.

Ketika diwawancarai perihal kendala, beliau menjawab “Kendalanya selama ini tidak ada, asalkan sampah yang ada rutin diangkut. Dulu yang jadi kendala itu saat sudah terlanjur menumpuk. Kalau perihal dana, hal ini sudah dianggarkan sebagai biaya pemeliharaan untuk membayar pengangkut sampah dari luar. Berkenaan dengan tempat yang dibelakang Gedung Baru, nanti akan diperbaiki.” (ly/wi/P.L)


Kamis, 20 April 2017

Tim "Go International" Membawa Nama Harum FEB ULM Di Universitas Sriwijaya



Penyerahan penghargaan yang diterima oleh Ismayanti (wanita berkerudung) bersama tim nya dalam lomba Paper Writing Competition
       Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya kembali mengadakan berbagai macam lomba lewat Sriwijaya Accounting National Days. Salah satu diantaranya yaitu Paper Writing Competition. Lomba tersebut dilaksanakan dari tanggal delapan hingga sebelas April 2017 di Universitas Sriwijaya, Palembang.
      Tim Go International yang berasal dari FEB ULM berhasil meraih juara 1 dalam ajang tersebut. Tim ini terdiri dari tiga orang yaitu Rysqi Puspita (ujung kiri) dan Ismayanti (wanita berkerudung) dari jurusan IESP, serta Hayati Lubis (wanita di ujung kanan) dari jurusan Manajemen.  Menurut Ismayanti, Ia tidak menyangka bahwa timnya dapat mengalahkan tim-tim lain yang berasal dari Universitas terkemuka di Indonesia.
       Mereka juga tak luput dihadapkan pada berbagai kendala seperti, deadline pengiriman paper, adanya responden yang tidak dapat di wawancarai dan pendanaan yang sempat terhambat. Bahkan ketika mereka sedang melakukan presentasi pun juga mendapati beberapa kendala. Namun hal itu mereka hadapi hingga akhirnya mereka membawa pulang sebuah kebanggan untuk FEB ULM.
      Kemenangan yang berhasil dipetik tersebut tentunya tidak terlepas dari dukungan yang di berikan oleh orang sekitar, Ketua jurusan, Wakil Dekan dan Dekan FEB ULM pun juga turut memberikan dukungan dan perhatian penuh atas apa yang mereka lakukan.
     “Untuk yang berminat mengikuti lomba, jangan memilih lomba yang waktu deadlinenya mepet, karena itu akan membuat hasil kalian kurang maksimal. Lalu perhatikan pembuatan judul jangan sampai melenceng dari tema. Kalau paper kita melenceng dari tema, kemungkinan persentasi sebagus apapun juga tidak bakal berhasil karena biasanya nilai paper lebih tinggi dibandingkan persentasi. Kemudian jangan cuma papernya saja yang bagus persentasinya juga. Kalian bisa membuat semacam skenario dongeng dan berpantun di awal presentasi. Kita juga harus bisa menguasai panggung, dan kalau bisa, kita dapat membagikan selebaran kecil ke peserta mengenai presentasi yang kita tampilkan agar menunjukkan kesan yang mantap”, tutur Isma  (ar/mb)

Tetap Bangga Meski Tak Juara



Mutmainnah (paling ujung kiri kerudung biru) dan timnya saat mengikuti lomba di UII Yogyakarta.

Banjarmasin -  Senin (17/4). Meski tak berhasil menyabet gelar juara dalam beberapa perlombaan, Mutmainah dan tim tetap merasa bangga. Setidaknya, mereka sudah berani mencoba dua lomba tingkat nasional dan telah memperkenalkan nama Universitas Lambung Mangkurat ke luar daerah. Selain itu, mereka juga merupakah satu-satunya perwakilan Kalimantan Selatan yang ikut bersaing dalam lomba tersebut.

            Adapun kedua lomba yang mereka ikuti yaitu, Battle And Lead In Accounting Competition (BALANCE) yang diadakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berlangsung dari tanggal 31 Maret-2 April 2017, dan Sriwijaya Accounting Olympiand yang diadakan Universitas Sriwijaya Palembang. Berlangsung dari tanggal 9-10 April 2017.

            Menurut penuturan Mutmainah, sebelum mengikuti Battle And Lead In Accounting Competition di Yogyakarta, mereka terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diikuti sebanyak 106 tim. Disana mereka disodorkan sebanyak 12 soal mengenai akuntansi dan diberi waktu pengerjaan selama satu minggu. Dari seleksi itu diambil sebanyak 15 tim yang akan diadu kembali dan mereka salah satu tim yang lolos. Namun sayang, langkah mereka untuk bisa masuk dalam 5 besar akhirnya terhenti. Sepuluh tim yang tidak berhasil maju tersebut kemudian diadu kembali dengan sistem “Ranking Satu”. Di lomba itu mereka akhirnya berhasil menjadi juara pertama.

            Di lomba Sriwijaya Accounting Olympiand, Mutmainah kembali mencoba peruntungannya. Disini ia berada dalam tim yang berbeda dari sebelumnya. Mereka kembali diberikan soal-soal yang harus dijawab dalam satu hari, tepatnya dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Dari 45 tim yang ikut bertanding, diambil sebanyak 20 tim yang akan maju ke babak selanjutnya. Tapi sayang, mereka belum bisa memberikan hasil yang terbaik.

            “Dari lomba ini (Sriwijaya Accounting Olympiand), kami tidak memperoleh apa-apa. Tapi dari sini kami turut memperkenalkan nama Universitas Lambung Mangkurat,” kata Mutmainah.

            Selama lomba, kendala demi kendala juga harus mereka hadapi. Mulai dari keterbatasan waktu persiapan hingga keterbatasan dana. Akan tetapi untuk masalah dana mereka cukup terbantu setelah proposal yang mereka ajukan ke pihak jurusan diterima. Selain itu, dalam tim mereka sendiri, ketiganya masih menduduki semester empat sedangkan soal-soal yang dilombakan berasal dari semua semester.

            “Sayangnya kami disini baru semester empat sedangkan soal-soal itu sudah mencakup sampai semester enam, sehingga dari pihak jurusan juga menyayangkan hal tersebut. Saat lomba di Sriwijaya itu kami sangat merasakan kesulitan dan kalah telak,” sambungnya.

            Kedepannya, mahasiswa  S-1 akuntansi ini berencana untuk kembali mengikuti lomba-lomba lain yang akan diselenggarakan dalam tahun ini. “Kedepannya masih banyak tawaran lomba. Ada dari universitas Bengkulu dan Universitas Katolik di Palembang. Tapi saat ini masih perlu persiapan,” tuturnya (nf/hd)

Malam Puncak Aruh Sosiologi dan Antropologi, Gait Budi Doremi.


Budi Doremi saat beraksi diatas panggung pada malam puncak Aruh Sosiologi dan Antropolgi, Open Space ULM (17/4)

            Aruh Sosiologi dan Antropologi merupakan acara tahunan yang rutin diadakan sebagai bentuk Dies Natalis Prodi Sosiologi dan Antropologi yang kali ini turut diadakan kembali yaitu aruh yang ke-8. Tak tanggung-tanggung acara Dies Natalis kali ini mendatangkan Penyanyi popular Indonesia, Budi Doremi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang juga mengundang berbagai public figure terkenal seperti Komika Nasional.

            Rangkaian Aruh Sosiologi dan Antropologi  ini telah dimulai dari awal April dengan berbagai lomba, seperti Desain Sasirangan, Fashion Show Sasirangan, Festival Musik Panting, Lomba Akustik, dan Fotografi hingga puncak acara pada minggu (17/4) yang dimeriahkan oleh Budi Doremi.

            Malam puncak  Aruh Sosiologi dan Antropologi (17/4) dimulai pukul delapan malam dengan berbagai rangkaian acara. Dibuka dengan penampilan berbagai band akustik dan musikalisasi puisi hingga puncaknya yang paling ditunggu-tunggu adalah penampilan dari sang idola sendiri, Budi Doremi yang tampil dengan membawakan enam lagu, dan  kemudian ditutup dengan lagu fenomenalnya ‘doremi’. Selanjutnya acara dilanjutkan dengan acara madihin yang tak kalah seru dan membuat penonton  terhibur hingga lewat tengah malam.

            Lisna Wati selaku Ketua Pelaksana mengaku alasan mereka memilih mengundang Budi Doremi untuk memeriahkan puncak acara adalah sebagai bentuk surprise dari berbagai rangkaian acara yang telah dilaksanakan dan tentunya untuk memberikan nuansa modern yang berbeda dari sebelumnya yang lebih mengarah ke budaya. Tempatnya sendiripun mereka memilih untuk outdoor yaitu bertempat di Open Space ULM, agar lebih bersifat terbuka dan tentunya dengan tiket masuk yang murah agar dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat.

“Saya berharap dengan adanya acara ini dapat mempererat solidaritas antar mahasiswanya sendiri, dengan harapan kami juga ingin mewariskan ilmu-ilmu kami kepada mereka adik-adik yang baru yaitu mengajarkan kepada mereka bagaimana menjaga kebudayan-kebudayaan yang ada karena kita sebagai orang-orang antropologi harus memerhatikan budaya. Untuk pihak eksternalnya sendiri saya berharap dengan adanya aruh sosiologi ini dapat memotivaasi orang-orang diluar sana bahwa kebudayaan itu tidak harus dihilangkan tetapi harus tetap dilestarikan dengan cara kita masing-masing, dan tentunya dengan harapan kami bisa terus menginspirasi prodi-prodi yang lain” ungkap Lisna Wati selaku Ketua Pelaksana. (Mde)

Selasa, 18 April 2017

Titipan Buat Wakil Rakyat

Oleh : Adi dan Arie

Wahai wakil rakyat yang terhormat
Yang katanya bermartabat
Yang katanya berjuang untuk rakyat
Yang katanya berjiwa sosial kuat

Dapatkah kau mendengar suara kami?
Kami yang dulu telah memilihmu
                        Kami yang percayakan negeri ini padamu
                        Kami yang kini sangat berharap padamu

Engkau yang berbicara dengan berbagai kata mutiara
Engkau yang berjanji dengan begitu manisnya
Engkau yang bersumpah mengabdi untuk kami semua
Saat ini, dimanakah itu semua?

                        Jutaan dari kami dibawah garis kemiskinan
                        Tak sedikit dari kami yang pengangguran
                        Tak terhitung dari kami yang kelaparan
                        Masih hidup pun bagai keajaiban

Wahai wakil rakyat yang terhormat
Kami harap janjimu bukan hanya siasat
Sumpahmu bukan hanya tipu muslihat
Yang hilang begitu saja setelah engkau jadi pejabat

Kami percaya kepadamu
Engkau mampu menepati janjimu
Engkau sanggup membuktikan sumpahmu
Hanya jika engkau tak dibutakan oleh nafsu

Comments System

Disqus Shortname