Selasa, 18 Maret 2014

MUSIK ITU UNIVERSAL

 
Photo Source : muhammadalirahman.blogspot.com


Oleh :
Auzan Nur Mahdi
Manajemen 2012

Musik. Sebuah alunan nada yang dilantunkan oleh seseorang. Mulai solo, duo, trio, band hingga boyband dan girlband. Musik juga tidak terbatas oleh waktu serta usia, bisa didengarkan kapan saja kapan pun kita mau. Jadi tidak heran, remaja belasan tahun mendengarkan lagu Let it Be nya The Beatles di tahun 2013 yang disebut sebut orang zaman sekarang sebagai zaman teknologi ini.
            Musik juga tidak dibatasi oleh genre yang diusung oleh musisi yang membawakannya. Baik Pop, Jazz, RnB, Rock, Hip-Hop, sampai Metal disajikan oleh bermacam musisi, lokal maupun internasional.  Yang saya sebutkan tadi hanya segelintir dari genre musik saja, masih ada Folk, Classic, Country, Dance, dan lain lain yang tidak mungkin disebut satu persatu. Masing-masing mempunyai keunikan dan keasikan tersendiri bagi para penikmatnya. Bisa saja, seorang musisi menggabungkan genre tertentu menjadi satu kesatuan.  Nu Metal misalnya, menggabungkan Hip-Hop/Rap dengan Metal dan menjadi musik yang tidak pernah kita dengar sebelumnya. Tidak ada batasan dalam musik.
            Kemudian musik -khususnya dengan vokal-  juga tidak lepas dari lirik yang dinyanyikan oleh musisi yang membawakannya. Dimana membuat penikmatnya terhanyut sampai bersemangat menyanyikan musik dari band idolanya. Musik tidak lepas dari lagu. Lagu juga tidak lepas dari lirik. Lirik juga tidak lepas dari bahasa. Suatu keterkaitan yang relatif tidak bisa dilepaskan satu sama lain.

            Bahasa. Disini terjadi fenomena yang cukup unik, orang-orang dengan cukup fasih menyanyikan lagu dari musisi idola mereka yang berbeda bahasa, budaya bahkan negara.  Sudah bukan hal aneh lagi, kita menyaksikan konser dari musisi mancanegara semisal Katy Perry di Indonesia. Ribuan penonton membludak memenuhi area konser. Juga tidak heran angka ribuan penonton sekarang sudah mencapai angka lima puluh ribu!! Walaupun harga tiket konser dibanderol 1 juta ke atas, penonton tetap antusias meneriakkan nama Katy Perry, menyanyikan setiap lagu yang dilantukan sang idola meskipun berbahasa Inggris yang notabene bukan bahasa ibu kita. Apakah itu menandakan bangsa Indonesia sudah fasih berbahasa Inggris? Belum tentu.
            Itulah hebatnya musik. Menyatukan bahasa, budaya, sampai negara seperti contoh di atas. Saya mengerti meskipun hanya 50% dari jumlah penonton yang memahami dengan betul arti dari lirik lagu-lagu Katy Perry tadi, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat penonton menyanyikan lagu-lagunya. Mereka tidak peduli, yang penting enak didengar katanya.
            Sekarang bahasa-bahasa lain sudah mulai menginvasi Indonesia, layaknya Korea, Jepang, hingga Mandarin. Masyarakat secara umum mengernyitkan dahi dengan fenomena bahasa yang relatif susah diucapkan ini. Pandangan mereka, “Bahasa Inggris sih mending, lah ini bahasa Korea Jepang, emang kamu mengerti?” dan yang lebih parah, “Emang kamu bisa mengucapkan bahasa dari mereka?”
            Bagaimanapun, bahasa Korea maupun Jepang apalagi Mandarin memang susah diucapkan bagi mereka yang baru pertama kali mendengarnya. Namun bukan hanya kata-kata yang ingin disampaikan oleh musik. Ia juga menyampaikan alunan nada indah yang melunturkan entah bahasa apa yang dinyanyikan. Jika seseorang benar-benar mengerti musik, tentu dia bisa menikmati nada nada tanpa harus terikat oleh bahasa.
            Saya juga baru lima tahunan ini menyadari betul dari pernyataan diatas. Musik itu Universal.
            Selera musik saya dulu mengarah ke barat. Lagu-lagu dari Linkin Park, band Nu Metal favorit saya, jadi menu di pagi hari sebelum pergi ke sekolah dasar. Tidak lupa, lagu dari band lokal seperti Peterpan, Ungu, ADA band di malam hari saat istirahat di kamar sehabis sekolah. Setelah bertahun-tahun mendengar genre yang sama tentu kita merasa bosan. Begitu juga dengan saya yang menyadari hal ini kala di sekolah menengah atas.
            Suatu hari teman saya memutar sebuah lagu yang asik didengar, namun saya tidak mengerti bahasanya. Lalu saya tanyakan pada teman saya “Ini lagu dari siapa? Asik juga nih kayanya. kata saya. “ini lagu dari Laruku, band jepang yang terkenal itu” “banyak lo lagunya yang keren keren!!” jawab teman saya. Itu awal mula saya mendengarkan lagu berbahasa asing selain Inggris, yaitu Jepang. Saya sendiri sudah mengetahui nama band tersebut, Laruku ketika baca-baca buku, namun tidak pernah mendengarkannya secara lebih lanjut. Karena dulu terasa aneh mendengarkan musik dengan bahasa yang asing di telinga. Setelah mendengar berulang-ulang ternyata lagu lagu mereka memang asik dan memiliki keunikan tersendiri dibandingkan band band dari barat, misalnya.
            Musik yang saya dengarkan bisa dikatakan “naik ke atas” karena telinga saya selalu menuntut lebih. Dari Pop ke Pop Rock, Pop Rock ke Rock, Rock ke Metal sampai sekarang yang lebih lagi….tidak puas mendengarkan yang lembut menyayat hati, kemudian mendengarkan yang agak keras. Sampai mendengarkan genre yang paling keras seperti Death Metal….
            Sekarang saya juga mendengarkan Swing, RnB, Alternative, sampai yang berjenis Avant-Garde dengan bahasa yang bermacam-macam pula. Saya juga mendengarkan lagu lagu Korea yang sekarang menjadi demam anak muda sekarang. Intinya tidak ada batasan, selama masih enak didengar dan sesuai dengan selera saya karena bagaimanapun musik adalah selera orang.
            Namun, ada yang masih terlintas di pikiran : “Kenapa masih saja ada orang yang menghina genre musik tertentu?”. Misalnya para pendengar musik Pop menghina musik Metal karena teriak teriak ga jelas. Sedangkan Para pendengar musik Metal balik menghina musik Pop karena mereka bisanya membuat lagu-lagu yang bertempo pelan dan hanya bercerita tentang kesedihan saja.
            Dari sudut pandang netral jelas itu tidak bisa dibenarkan, bagaimanapun ke-universalan musik itu pasti. Terserah dari masing-masing orang mendengarkan apa yang disukainya, kita tidak bisa menilai itu benar atau salah. Yang jelas, masing-masing dari genre tersebut mempunyai kelebihan dan keunikannya sendiri. Dan sudah seharusnya kita tidak boleh saling menghina dengan pendengar musik lain.
            Kesimpulan yang bisa kita petik, musik tak akan lekang oleh waktu, usia, genre, maupun bahasa. Hanya kita sendiri yang menentukan apa yang menjadi kesukaan kita. Tidak ada salahnya kan, ber-headbang ria di pagi hari, kemudian senyum senyum menyanyikan lagu sekelompok gadis cantik dengan jumlah banyak J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments System

Disqus Shortname