Minggu, 09 Maret 2014

"Cinta Dalam Sepotong Donat"


sumber foto: http://donatcinta.wordpress.com/


Koraan...koran..koran datang...selamat pagi dunia. Namaku Prima . P-r-i-m-a . lelaki berumur 18 tahun . yang sehari-hari mengantarkan cakrawala dunia ke tangan kalian semua.

Pagi ini seperti biasa aku berkeliling, mengantarkan koran ke rumah rumah yang sudah berlangganan , permisi jawabku koran datang...tak ada jawaban.

Permisi, korannn datang.... dengan suara yang lebih lantang

Tak ada sahutan, mungkin tak ada orang . akhirnya aku memutuskan ...

Tunggu.. balkon atas kulihat pintu terbuka, akhirnya aku lemparlah keatas.

Aduhhhh, siapa disana awas ya, seorang wanita yang tengah belepotan coklat di wajahnya melotot kepadaku.


Maaf, ucapku dengan wajah memelas. Dia tertawa, ya dia tertawa , tawanya begitu mempesona, pipinya ikut memerah . aku bengong, apa yang dia tertawakan.

Kau sangat lucu ketika muka memelas seperti itu jawabnya, ketika melihatku bengong.

Kau juga lucu dengan muka belepotan coklat, jawabku.

Benarkah? Oh memalukan. Wanita itu langsung berlari ke kamarnya.

Aku pun tertawa dan pergi melanjutkan perjalananku mengantarkan berita.

Esok harinya seperti biasa aku menjalani profesiku sebagai tukang koran, menyampaikan berita hangat pagi ini , timnas u-19 dari Indonesia akan melawan timnas Malaysia malam ini , ayo tonton jangan ketinggalan, bapak,ibu, adek-adek. Indonesia, Indonesia yakin menang, Indonesia pasti menang.

Ketika aku sampai dirumah wanita yang belepotan coklat, ada berita apa pagi ini? Suara itu...ketika aku menengadah ke atas benar saja wanita itu.

Timnas u-19 akan melawan timnas malaysia malam ini mba, eh maaf saya lupa anda perempuan, perempuan kan...sebelum aku melanjutkan kata-kataku

Evan dimas jawabnya aku suka dia sambil tersenyum.

Kenapa kau tidak percaya? Aku hafal semua pemain timnas u-19 mau aku sebutin namanya satu-satu? Tambahnya.

T..i..dak usah jawabku, saya percaya ko mba jawabku. Cuma heran saja ada perempuan yang tergila-gila dengan bola.

Ini kan jaman emansipasi wanita, dimana wanita sejajar dengan kedudukan laki-laki paham jawabnya mungkin gusar karena sudah aku remehkan. Dan satu lagi jangan panggil aku mba, panggil aku dhea. D-h-e-a. Sepertinya kita seumur sambil mengulurkan tangan.

Prima, P-r-i-m-a jawabku.

Prima, sesuai dengan semangatmu tiap pagi prima.  Dia tertawa lagi.

Aku memandangnya.

Kenapa kau memandangku seperti itu? Tidak suka melihat aku tertawa?

Kau cantik. Tambah cantik kalau tertawa.

Apa?

Sadar akan ucapanku, aku bergegas mengambil sepeda dan meninggalkannya yang berdiri mematung bengong melihat kelakuanku.

Aku memalukan jawabku. Kenapa harus berkata yang tidak tidak, sadar prima dia itu langit dan kamu buminya, dia bintang dan kamu kerikil kerikil sungai. Kamu bukan pangeran yang menunggang kuda putih kamu hanya tukang koran dan sepeda butut.

Selamat pagi duniaaaa, prima disini. Siap mengantarkan topik terhangat ke tangan anda.

Hai, Prima sapanya

Hai,Dhea jawabku. tersipu malu, apakah dia akan bertanya tentang kejadian kemarin, apa dia tahu kalau...

Evan dimas mencetak aku senang sekali jawabnya,sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin.

Yaa, tentu saja masyarakat indonesia senang akan kemenangan besar ini apalagi lawannya singa yang sudah lama mencabik-cabik garuda.

Dia tertawa, setuju sama kamu jawabnya.

Begitulah awal persahabatan kami, setiap pagi dia selalu menungguku dari atas balkon, menungguku untuk  menyampaikan topik-topik terhangat, dia seperti punya magnet tersendiri, hingga aku terkadang sendiri lupa harus mengantarkan koran ke tempat lain.

Hai Prima, sapanya pagi ini

Hai Dhea jawabku, Dhea...

Ya...

Ada coklat disini, aku menunjuk pipinya

Dia terkejut dan berusaha mengusapnya

Bukan disini usapku ke pipinya. Tiba-tiba saja jantungku... aku melepaskan tanganku. Maaf kataku aku tidak...

Tidak apa apa potong dhea. Terimakasih. Ini memalukan jawabnya aku terlihat seperti anak-anak bukan? Dia tertawa hingga pipinya merah merona.

Tidak jawabku. Apa yang membuatmu belepotan coklat setiap pagi jawabku

Ini jawabnya. Kue donat ini . mau coba?

Aku tidak menjawab.

Iniii, dia langsung menyuapkannya kemulutku. Buka jawabnya...aku pun seperti tidak punya pilihan lain selain membuka mulutku.

Kenapa diam, tidak enak?

E...n...akkk kok  jawabku terbata bata. Beli dimana jawabku?

Aku buat sendiri jawabnya

Benarkah? Wahh calon ibu rumah tangga yang baik jawabku.

Dia pun tersipu malu, terimakasih prima.

Keesokan harinya, dia seperti biasa ada di balkon dan bergegas turun,kali ini dengan sepotong kue donat dia selalu memintaku mencoba kue donat yang baru dibuatnya dan selalu aku jawab dengan cap jempol untuk kue donatnya.

Mengapa engkau menyukai kue donat dan setiap hari membuatnya.

Alasannya sederhana, aku merindukan ibuku. Sangat sangat merindukannya, dulu ketika aku menangis ibuku menghiburku dengan kue donat buatan tangan ibuku sendiri.

Sekarang ibumu...?

Yah beliau sudah pergi 8 tahun yang lalu jawabnya. tiba-tiba wajah dhea begitu mendung.

Maaf kataku.

Dia tersenyum, aku senang ada teman berbagi seperti kamu jawabnya itu sudah cukup menghibur bagiku.

Pagi ini tiba-tiba gerimis, aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga agar sampai di rumah Dhea. Tiba tiba aku melihat ada seorang pria sedang mengobrol di balkon bersama..

Mungkinkah? Oh hatiku tiba-tiba merasa sakit sepertinya hatiku terluka. Aku memutuskan pergi. Prima.... panggil dhea dari atas balkon. Primaa... prima..... dia berlari mengejarku di belakang.

Samapi dirumah aku uring-uringan tak karuan, mungkinkah pria itu kekasih Dhea, mereka begitu akrab, tetapi Dhea tak pernah bercerita tentang pria itu apakah pria itu benar-benar istimewa? Oh seharusnya aku...

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan ketukan suara di pintu rumah,

Prima?

Ya benar.

Perkenalkan saya Anton, saya kakanya Dhea.

Tunggu jadi pria ini..kakanya Dhea yang aku lihat tadi. Jadi aku sudah salah sangka. Dhea bersamamu?

Itulah maksud kedatangan saya kesini saya ingin memberitahukan,Dhea mengalami kecelakaan sewaktu mengejar kamu. Kedua tangannya patah.

Dhea.... kataku. Aku melihatnya menangis tersedu sedu. Dhea maafkan aku, aku begitu gelap mata aku cemburu melihatmu dengan pria yang ternyata adalah kakakmu sendiri.

Dhea hanya tertawa.

Bagaimana mungkin disaat seperti ini dia tertawa.

Mas Anton tolong ambilkan kue donat Dhea tadi mas .Itu untuk prima.

Maaf hanya tinggal sepotong, yang lainya jatuh saat aku mengejarmu kata Dhea.

Begitu kubuka sepotong hati berbentuk kue donat didalamnya. saat aku memakannya, aku pun tak kuasa menahan tangis.

Kenapa tidak enak ?

E..n..a...k..jawabku terisak.

Lalu kenapa kau menangis

Ini donat terenak yang pernah aku makan, jawabku.

Dan donat terakhir yang aku buat untukmu lanjut Dhea.

Aku akan menjadi tangan keduamu Dhea.

Tangan kedua?

Ya tangan keduamu aku akan menggantikan kedua tanganmu membuat donat, setiap pagi aku akan kerumahmu, kau akan mengarahkanku dan aku akan menjadi tangan keduamu. Aku berjanji. (Nadya Septerini)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comments System

Disqus Shortname