Kamis, 11 Mei 2017

Aksi Coret Kursi Kampus


kondisi kursi yang dicoret di GB1A

Seperti yang kita ketahui fungsi kursi di dalam kelas disediakan untuk menunjang proses belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa. Sarana dan prasana tersebut ada agar dosen dan mahasiswa dapat melakukan aktivitas di dalam kelas dengan nyaman. Selain dari fungsi kursi yang digunakan untuk duduk, ternyata benda tersebut mempunyai fungsi lain bagi para mahasiswa. Apakah itu? Coba perhatikan setiap kursi yang ada pada gambar diatas, pasti kalian akan menemukan hal-hal yang merusak nilai estetika. Entah hanya sekedar iseng atau tidak adanya media lain untuk menulis, namun kursi yang berada di ruangan GB1A tersebut, sudah lama sekali memiliki corak yang tak biasa hasil kreasi para Mahasiswa.
Menurut beberapa mahasiswa yang melihat kondisi tersebut, mahasiswa mulai mencoret kursi saat mereka mulai bosan dan tidak tau harus melakukan apa dikelas. Selain itu, hal ini juga disebabkan karena kurangnya kesadaran untuk menjaga fasilitas yang ada. (Arlina Sri Astuti, Akuntansi’16 dan Marlina, Manajemen’15)
“ Harapannya semoga mahasiswa lebih paham dan mengerti tentang fungsi dan tujuan adanya sarana dan prasarana dengan menggunakannya sebagaimana mestinya, serta sebaiknya disetiap ruangan diberikan peringatan baik lisan maupun tertulis”, tutur Amrin Yusuf (Akuntansi ‘16).

(IL)


Riduan & Khairur: Tetap Semangat Belajar & Jangan Takut Berprestasi

Banjarmasin, Jurnal Kampus-- Sebagai Generasi muda, kita diharuskan untuk selalu melakukan hal positif seperti belajar sungguh-sungguh dan mencetak berbagai prestasi yang membanggakan. Hal inilah yang mendasari Muhammad Riduan (19) & Khairur Razikin (18) untuk mengikuti lomba Pidato yang diadakan BKKBN Prov. Kal-Sel dan akhirnya Riduan berhasil menyabet juara 3 dan Khairur Razikin berhasil menyabet juara 2.
Dalam mempersiapkan diri untuk lomba tersebut, mereka harus mengumpulkan data kependudukan dari BPS untuk mendukung naskah pidato yang mereka buat. Khairur juga menambahkan kisah pengalaman nya sendiri juga turut dimasukkan ke dalam naskah pidatonya. Mereka menyebutkan banyak pihak yang mendukung langkah mereka untuk mengikuti lomba tersebut. Riduan mengatakan ada beberapa seniornya yang juga turut membantunya untuk mempersiapkan diri.
Lomba ini sendiri dilalui dengan beberapa tahap, yaitu tahapan lomba tingkat Kota dan selanjutnya tahapan lomba tingkat provinsi. Lomba tingkat provinsi ini diadakan tanggal 3-4 Mei 2017 di UIN Antasari.
Riduan mengungkapkan "Pesan saya agar semua mahasiswa tetap semangat dalam belajar. Apalagi kalau mengikuti perlombaan, kita harus mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Jangan takut bermandikan keringat saat persiapan latihan, karena itu akan lebih baik dari pada harus berkeringat darah (menyesal) saat penampilan".
"Untuk mahasiswa yang lain, jangan pernah takut untuk mencoba berprestasi. Karena semua mahasiswa punya kesempatan untuk meraih prestasi di ajang lomba apapun itu", tambah Khairur. (Fz/Hm)

Pendingin Ruangan yang Tak Kunjung ‘Sembuh’


  • Kondisi pendingin ruangan di gedung baru FEB lantai 2  yang telah diberi tanda bahwa pendingin ruangan tersebut rusak.
Beberapa minggu telah berlalu sejak rusaknya pendingin ruangan / AC di salah satu ruang kuliah digedung baru lantai 2 FEB ULM, namun masih belum nampak adanya tindakan dari pihak Fakultas atas kejadian tersebut.

            Menurut Dr. Ade Adriani selaku wakil dekan 2 FEB ULM mengatakan, bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan kosongnya anggaran belanja modal atau anggaran revisi, lalu menunggu persetujuannya sekitar bulan September tahun 2017. Apabila pendingin ruangan tersebut ingin diganti, maka harus mematuhi peraturan keuangan yang berlaku dan apabila diperbaiki maka termasuk perbaikan kecil dan tidak menyeluruh. Untuk perbaikan keseluruhan biasanya dilakukan evaluasi terlebih dahulu sebelum memasuki awal perkuliahan, dan diharapkan nantinya di setiap pertengahan kuliah (pada masa ujian tengah semester) juga diadakan evaluasi terhadap sarana dan prasarana yang ada di fakultas ini. (ar/mb)

Melihat Pendidikan Melalui Kacamata Dosen




JURNAL KAMPUS-(8/5). Tanggal 2 Mei merupakan tanggal yang cukup bersejarah dalam dunia pendidikan nasional. Sebab pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari pendidikan nasional (HARDIKNAS) Indonesia. Dari pandangan yang diberikan oleh Drs. H. Rusdiansyah, M.P. yang merupakan dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat, menurut beliau pendidikan itu ada kuantitas dan kualitas. Untuk kuantitas pendidikan sudah cukup baik karena semua orang bisa bersekolah dengan gratis, hanya tinggal diperlukan kemauan dari diri sendiri saja. Sementara dari segi kualitas, ini berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mempengaruhi antara lain si pendidik dan fasilitas yang ada.

Namun tidak itu saja faktor yang mempengaruhi kualitas dari pendidikan itu, melainkan juga ditentukan dari tingkat kesejahteraan keluarga siswa yang bersangkutan. Bila tingkat kesejahteraan keluarganya rendah maka siswa tersebut akan kurang dalam mengikuti pelajaran di sekolah dikarenakan pemikiran yang ingin membantu perekonomian keluarga. Hingga tidak jarang banyak anak yang tidak bersekolah karena bekerja. Meski begitu, bukan berarti semua siswa yang memiliki keluarga kurang sejahtera selalu terkebelakang, justru kadang-kadang mereka inilah yang memiliki semangat belajar yang tinggi.

Pemerintah juga telah memberikan bantuan bagi anak yang tidak mampu agar tetap bersekolah, seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Dana BOS. Namun bantuan tersebut digunakan tidak sebagai mestinya seperti yang di rancang pemerintah. Bantuan tersebut justru di pergunakan oleh orang tua siswa untuk keperluan sehari-hari bukan untuk keperluan belajar siswa. Maka dari itu sekarang ini pemerintah mengubah skema pemberian bantuan dari bantuan tunai ke non tunai, sehingga siswa tidak lagi menerima uang melainkan langsung pada keperluan belajar seperti buku-buku tulis, buku pelajaran, seragam sekolah dan lain sebagainya.

 Pendidikan sekarang juga tidak sama dengan pendidikan dulu yang benar-benar bertujuan mendidik siswanya untuk belajar. Pendidikan sekarang dinilai lebih bebas, yang maksudnya tergantung pada siswa itu sendiri yang menentukan apakah ingin pintar atau tidaknya mereka. Belum lagi pengaruh dari kemajuan teknologi seperti keberadaan handphone yang kebanyakan malah digunakan hanya untuk bermain game saja.

            Dosen jurusan IESP ini juga mengungkapkan, bahwa problem pendidikan dari dulu sampai sekarang ini yaitu, pendidikan selalu ditujukan untuk orientasi pekerjaan. Padahal, harusnya tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk mengubah tingkah laku dan juga menjadi seorang yang pemikir. Dari situ nantinya mampu menyesuaikan diri dan bisa mendapatkan pekerjaan.

Senin, 08 Mei 2017

Pendidikan, Antara Harapan dan Kenyataan


           Pendidikan, Berasal dari kata “didik” yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan sendiri memiliki definisi “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Dari definisi ini secara jelas pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tujuan Negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.
Setiap tahun, pada tanggal 2 Mei, negara kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan tema yang berbeda. Untuk tahun ini, tema yang ditetapkan berdasarkan surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) adalah “Percepat Pendidikan Yang Merata dan Berkualitas”. Ada 2 poin penting terkait tema hardiknas tahun ini, yaitu “pendidikan yang merata” dan “pendidikan yang berkualitas”.
Pendidikan dapat diartikan bahwa semua warga negara berhak mendapat pendidikan, tanpa memandang anak desa/kota, kaya/miskin, bangsawan/rakyat biasa dan berbagai perbandingan lainnya. Idealnya, semua warga negara memiliki hak yang sama untuk menikmati pendidikan. Namun, bagaimana dengan kenyataannya?
Kenyataannya, pendidikan yang “merata” sangat sulit ditemukan. Ada yang mengatakan “pembangunan daerah tergantung bagaimana pemerintah daerahnya”. Sedangkan, pendidikan adalah bagian dari pembangunan. Tentunya pendidikan juga tergantung bagaimana pemerintah dari daerah yang bersangkutan dalam mengelolanya.
Hal yang patut disoroti mengenai alasan kenapa pendidikan yang merata sulit ditemukan karena tidak adanya biaya dan kurangnya informasi (untuk daerah pelosok). Sebenarmya, pemerintah pusat maupun daerah telah menyediakan beasiswa bagi masyarakat miskin atau kurang mampu, serta dengan gencar menyebarluaskan informasi beasiswa tersebut hingga ke pelosok-pelosok tanah air.
Lalu, mengapa masalah biaya dan informasi tersebut bisa terjadi? Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya perhatian masyarakat terhadap pendidikan dan adanya permainan politik dari para pejabat daerah yang bersangkutan. Umumnya sebagian besar masyarakat (terutama pelosok) beranggapan bahwa pendidikan tidak penting. Sebagian masyarakat tersebut beranggapan yang penting bisa membaca dan menghitung, jadi tidak harus buang-buang biaya untuk sekolah. Sedangkan dari sisi pemerintah daerah, kata “orang dalam” sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Praktik yang umumnya terjadi adalah pejabat daerah yang mementingkan kepentingan keluarga atau golongannya terlebih dahulu dibanding mereka yang lebih berhak. Misalnya, penerimaan siswa pada tahun ajaran baru. Pendaftaran terbuka untuk umum, namun disinilah “orang dalam” itu muncul.
           Masyarakat yang memiliki hubungan dengan “orang dalam” akan mendapat peluang yang lebih besar untuk diterima, sedangkan masyarakat yang notabene lebih berhak diterima bisa saja tersingkir karena kasus tersebut. Hal inilah yang umumnya terjadi di negara kita. Kekuasaan disalahgunakan dan akhirnya membuat image pendidikan semakin buruk dimata masyarakat pelosok.
Berikutnya, pendidikan yang “berkualitas”. Berbicara mengenai pendidikan berkualitas, maka akan sangat berhubungan dengan faktor-faktor yang menentukan sebuah kualitas, dalam hal ini yaitu guru dan infrastruktur.
Sumber daya guru adalah ujung tombak dari pendidikan. Para gurulah yang menentukan keberhasilan dari sebuah pendidikan yang ada disuatu negara. Masalah kekurangan tenaga guru, adalah sedikit dari sekian banyak permasalahan guru di Indonesia. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi jika sebuah sekolah kekurangan guru. Kegiatan belajar mengajar sudah pasti akan terhambat. Hal inilah yang juga memicu adanya guru yang mengajar banyak mata pelajaran, meskipun bukan bidangnya. Padahal kondisi seperti ini kurang ideal untuk mewujudkan pendidikan yang berkulitas.
Pertanyaan demi pertanyaanpun akan terus muncul, apakah Indonesia memang benar-benar kekurangan tenaga guru?, Bagaimana mungkin bisa terjadi, bukankah ada banyak orang yang berkuliah dibidang keguruan?. Tidak perlu jauh-jauh, kita amati saja jumlah mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Apakah jumlah mereka sedikit?. Malah sangat banyak. Itupun baru satu universitas, bisa dibayangkan ada berapa universitas di Indonesia yang menyediakan jurusan keguruan dan jika semua itu digabung, maka sebenarnya kita malah kelebihan calon-calon guru, bukan malah sebaliknya.
Permasalahan guru sebenarnya bukan pada jumlah, akan tetapi penyebaran guru yang tidak merata. Terkadang para guru hanya terpusat di perkotaan saja hingga akhirnya terjadi kelebihan guru karena sekolah-sekolah yang ada tidak mampu menyerap semua guru. Sedangkan di daerah terluar, pelosok dan pedalaman, masih kekurangan guru.
Tak dapat dipungkiri mengapa calon-calon guru tak mau “berhijrah” ke tempat-tempat yang jauh dari pusat perkotaan. Bayangan hidup yang serba sulit, terisolasi dan keterbelakangan masyarakat yang akan dihadapi, pastinya menjadi alasan mengapa banyak guru yang tidak ingin dikirim kesana. Ditambah lagi dengan status guru honorer yang masih dianggap menyulitkan bagi para guru.
Ketidakmerataan persebaran guru jelas harus secepatnya diatasi. Karena itu, diperlukan pembangunan infrastruktur yang memadai. Pembangunan infrastruktur yang baik akan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang baik pula. Bagaimana mungkin ingin mencerdaskan anak-anak bangsa, jika sekolahnya saja banyak yang rusak bahkan membahayakan peserta didik itu sendiri. Selain itu, infrasruktur tidak boleh hanya terbatas pada pembangunan gedung sekolah saja, melainkan akses untuk menuju sekolah itu, seperti jalan dan jembatan. Sarana penunjang lainnya seperti tempat tinggal untuk guru sebaiknya juga disediakan untuk menjamin kehidupan guru disana.
Penghargaan juga hendaknya diberikan oleh pemerintah kepada guru-guru yang selama ini berdedikasi tinggi terhadap pendidikan di daerah-daerah tertinggal. Meski banyak dari guru yang tidak ingin mengajar di pelosok, akan tetapi tidak sedikit dari para guru tersebut yang masih mau mengorbankan dirinya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak disana. Karena itu penghargaan harus diberikan kepada mereka yang bertujuan untuk memotivasi mereka dan guru-guru lainnya.
Kesimpulannya adalah pendidikan yang merata dan berkualitas dapat dicapai dengan kerjasama dari semua pihak, mulai dari perbaikan mindset masyarakat tentang pendidikan, mengurangi atau bahkan menghentikan praktek “orang dalam”, hingga pemberdayaan dan persebaran tenaga guru yang lebih intensif. Kedepannya, semoga pendidikan di negara kita semakin baik dan dapat dinikmati semua golongan masyarakat.

Jumat, 05 Mei 2017

Dinding Panjat Mapala Wira Economica




Banjarmasin, Jurnal Kampus-- Setiap UKM yang ada dikampus pada dasarnya harus dapat mengembangkan skill dari setiap anggota. Pengembangan skill ini juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai. Seperti halnya UKM Mapala Wira Economica. UKM yang sudah ada sejak tahun 1985 ini telah membangun dinding panjat (kategori boulder) di depan gedung aula baru.

Dinding panjat ini memiliki tinggi 4 m dan lebar 16 m. Menurut Muhammad Nor Hakim selaku Koordinator bidang pendidikan dan pelatihan mengungkapkan "Dinding panjat ini berfungsi untuk melatih skill anggota Mapala, dan sebenarnya dulu dinding panjat ini ada didalam Sekre Mapala yang lama namun sifatnya portable. Dan sekarang Mapala Wira Economica telah mempunyai dinding panjat permanen". Ia juga menuturkan dalam proses pengerjaan dinding panjat ini, semuanya dilakukan oleh para anggota Mapala dan sekarang prosesnya telah mencapai 90%.

Komponen besi yang digunakan untuk kerangka dinding panjat adalah sebagian dari besi yang berumur 30 tahun lalu dan sebagiannya lagi dari besi yang baru. Hakim menuturkan dinding panjat ini kira kira menghabiskan ratusan juta rupiah.

Selain berfungsi untuk pelatihan anggota, dinding panjat ini juga digunakan untuk lomba. Pada tanggal 14-16 Juli 2017 Mapala Wira Economica akan mengadakan lomba panjat dinding (kategori boulder). Lomba ini diadakan dalam rangka Dies Natalis XXXII Mapala Wira Economica. "Lomba ini terbagi menjadi 4 kategori yaitu Pria Untuk pelajar/mahasiswa, Wanita untuk pelajar/mahasiswa, Pria untuk kategori umum dan Wanita untuk kategori umum" ungkap Hakim. (fz/hm)

Sang penimba Ilmu



Dikala pagi, orang-orang masih tertidur pulas..

Sedangkan aku sudah beranjak dari tempat tidurku..

Ku tinggalkan rasa aman dan nyaman demi citaku..

Apalah daya aku hanya orang yang tidak mampu..

Yang berjuang untuk menimba ilmu dan berani bermimpi untuk merubah hidupku..

Disini aku bukan siapa-siapa..

Ini semua kulakukan demi harpan dan asa..

Aku ingin meberikan segenap kebahagian kepada orang tua..

Yang selalu berdo’a untukku agar tercapai cita..

Yang selalu bekerja dan berjuang demi anaknya agar menjadi seorang yang berguna..

Wahai Ilmu..

Berikanlah jendela-jendela baru..

Untukku, untuk harapanku..

Wahai ilmu..

Tunjukkanlah aku kebenaran yang hakiki..

Yang akan ku cari dan kukerjakan dengan hati..

Wahai ilmu..

Kau akan kujaga, ku amalkan, ku cari, dan ku sebar luaskan..

Demi jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan..

Wahai ilmu..

Kaulah penerang kami..

Tanpamu apa jadinya dunia ini.. (rd/ls)

Senin, 01 Mei 2017

Mau join FLS? Takut, gak pede, kegiatannya ngeri, biayanya mahal? Yukk kenal lebih dekat apa itu FLS  

Suasana kegiatan FLS 2016
(sumber : https://meditiamonicaputri.wordpress.com/)


Apa itu FLS ?
FEB Life Skill secara umum merupakan ajang untuk pembekalan mahasiswa baru khususnya para organisatoris untuk lebih mengenal lingkungan organisasi di dunia perkuliahan yang tentunya berbeda dengan organisasi di tingkat Sekolah Menengah Atas.
Siapa saja yang boleh mengikuti kegiatan ini?
Nah! FEB Life Skill (FLS) ini  tidak hanya ditujukan untuk anggota ORMAWA saja tetapi juga terbuka untuk semua mahasiswa FEB sendiri mengingat kegiatan ini bertujuan untuk melatih jiwa kepemimpinan.
             Gimana sih kegiatannya?
            Kegitannya ini kece gila guys gak Cuma in door tapi juga outdoor. Acaranya sendiri akan dilaksanakan selama tiga hari yaitu pada hari Jum’at (12/5) untuk in door yang bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM. Untuk kegiatan in door nya kalian akan menganal dan belajar banyak tentang Public Speaking kebayangkan di masa sekarang gimana Public Speaking berperan penting dan bakal berguna benget buat kalian kedepannya. Untuk out door nya sendiri akan dilaksanakan selama dua hari (13-14 Mei) di Taman Hutan Raya, Sultan Adam, Mandiangin. Akan ada beragam kegiatan kaya travelling, camping, dan beragam kegiatan lainnya yang akan melatih leadership kalian dan juga mengasah kepekaan terhadap alam sekitar. Eittss tentunya akan ada games-games seru yang akan melatih kalian untuk bekerja sama dalam team.
            Kenapa harus join FLS?
Nah ini nih pertanyaan klasik, leadership kan bisa dipelajari dimana aja, public speaking bisa didapat dimana aja kenapa harus FLS? Okehh gini guys seperti yang udah dijelasih diatas yahh kalian disini gak cuma belajar leader sama public speakingnya doang tapi juga sebagai wadah kalian beradaptasi dan lebih mengenal tentang giamana kehidupan organisasi di kampus khususnya di lingkungan FEB ULM  sendiri, kalian juga akan dapat relasi, teman yang sebelumnya gak kalian kenal. FLS meruapakan ajang yang tepat buat kalian untuk menggali potensi besar dalam diri kalian yang selama ini terkubur, tenggelam, tertidur *ehhh
 “alasan saya mengikuti kegiatan ini karena FLS merupakan ajang kegiatan pelatihan kepemimpinan seorang mahasiswa yang berkuliah di FEB, tentunya sebagai anak ekonomi kita  ingin menjadi seorang pemimpin yang tegas dan terlatih, disinilah tempat saya melatih kepemimpinan untuk menjadi orang sukses”
“harapan saya dengan mengikuti kegiatan ini saya bisa mempunyai jiwa kepemimpinan yang tegas, bijak, dan bertaanggung jawab serta bisa engendalikan ego sendiri”. (Rakhmatullah, IESP’16)
“Tujuan kegiatan ini adalah agar pesertanya sendiri dapat mengasah kepekaannya terhadap masalah, karena ruang lingkupnya fakultas saya juga berharap setiap peserta tidak hanya bergaul pada sesama jurusannya saja namun juga bersifat terbuka dan bisa saling mengenal dengan teman-teman dari jurusan lain karena tujuan kita disini sama, yaitu untuk memajukan Fakultas kita”. Ungkap Muhammad Ikhdian selaku Ketua Pelaksana.
Nah guys setelah dengar penuturan dari salah satu peserta FLS dan Ketua Pelaksananya, serta dengan penjelasan beragam profitnya, apa kalian masih ragu? masih mikir? Udahh yukk join sebelum pendaftarannya ditutup!! (Mde)

Comments System

Disqus Shortname